AS, Laknatullah alaihi
Seminggu yang lalu Emen dapat undangan resmi sebagai tamu kehormatan dari sebuah Event Organizer Islam yang akan membikin sebuah acara yang bertajuk “Konser Amal Indonesia Meringis”. Acara tersebut rencananya diadakan di
Jakarta sebagai pusat ibu kota. Uang tiket dan sponsor yang masuk rencananya akan disumbangkan 40% bagi korban bencana alam tsunami dan gempa bumi.
Beberapa spanduk berukuran cukup besar terpampang di beberapa tempat strategis untuk mempromosikan acara itu. Di setiap spanduk, dengan tulisan warna mencolok disebutkan bahwa sponsor utamanya adalah “PT Air Muncrat” yang produknya seperti “kondom super” dan minuman berenergi “Irpa (irek papa)”. Konser Amal Indonesia Meringis yang akan digelar tersebut merupakan pentas musik terbesar sepanjang sejarah permusikan di Indonesia. Rencananya akan dihadiri 100 artis lokal, mulai lagu pop, rock, dangdut sampai lagu gamelan. Dalam spanduk-spanduk itu juga tertulis bahwa lagu-lagu yang akan digelar merupakan lagu hit baik dari dalam negeri maupun luar negeri, semisal hit Jatuh Bangun, Menangis, Tuhan, Hitam, You and I, Water Runs Dry dan sederet hit lainnya. Sedangkan artis penyanyinya sengaja dipilih artis lokal dengan varietas unggul, macam Jamilah Monroe, Tonjok Vi, Kacong Lenon, Emak Jagger, Biarin Adem, Maria Kere, Pecel Jackson, Elizabeth Kolor, artis dari Akademi Fauna Indonesia dan Indonesian Dodol juga sudah siap siaga untuk memabukkan para penonton. Untuk menjaring minat masyararakat yang notabene fanatik Islam, dalam spanduk itu ditulis besar bahwa acara Konser Amal itu diberi nama Nada dan Dakwah karena direncanakan ada acara ceramahnya.
Rencananya, besok pagi Emen berangkat. Menjelang keberangkatannya, rumah Emen penuh sesak dengan masyarakat yang mengucapkan selamat jalan dan memberinya berbagai macam bekal. Dari yang muda sampai nenek-nenek dan kakek-kakek datang menemuinya.
Selesai sholat subuh, Emen baru saja turun dari majlis ta’limnya setelah selesai memberikan pengajian bagi remaja seputar masalah dakwah. Di tengah kerumunan orang-orang yang memadati rumahnya, tiba-tiba datang dua orang yang mengaku panitia dari Konser Amal, diminta oleh Bapak Ketua Panitia untuk menjemput Emen. Dalam benak Emen, masih bergelantung tanda tanya besar, dalam hal seperti apa dirinya harus diwajibkan hadir di acara tersebut. Ternyata menurut keterangan dua panitia, bahwa Emen dimohon oleh Boss Event Organizer untuk memberikan tabligh di atas pentas dalam acara Nada dan Dakwah itu. Emen hanya tersenyum kecil. Di atas kertas putih polos, beliau menulis surat dan surat itu dibacakan dihadapan masyarakat yang juga kebetulan hadir di rumah Emen, “Bapak ketua panitia, mendengarkan musik lewat kaset, radio, atau tv itu mubah, tapi pementasan musik secara langsung macam acara yang sedang Bapak rancang itu merupakan hal haram, karena salah satu yang pasti terjadi di dalamnya adalah kumpul-campur pria dan wanita yang bukan mahramnya. Yang pantas menjadi nama bagi acara itu adalah Munkar dan Maksiat bukan Nada dan Dakwah. Perlu Bapak ketahui, saya tidak hanya menolak undangan Bapak, tapi lebih dari itu saya mengutuknya”.
Sabtu Kliwon tepat jam 8 malam, dimulailah acara pementasan Musik Akbar itu. Namun suatu keanehan tengah terjadi, pentas yang ditata artistik dengan lampu hias berwarna warni itu sepi penonton. Tidak ada seorangpun yang datang ke ternpat tersebut. Kemana mereka? Rupanya pada waktu yang bersamaan semua remaja dan masyarakat situ sedang memadati masjid jami’ yang berjarak kurang lebih 300 meter ke arah timur dari pentas itu untuk mengikuti acara yang bertajuk “Mahir alias Ceramah dan Dzikir”, acara khusus yang menghadirkan Emen sebagai pembicara yang saat itu mengangkat topik “Pasca Tsunami, AS Membidik Islam”. Ratusan ribu jamaah memenuhi masjid itu, demikian pula masyarakat yang sebelumnya berniat menghadiri Konser Amal, akhirnya tersedot ke acara Ma-hir tersebut.
Melihat kenyataan itu, Ketua Panitia berdiri termangu di depan cermin yang berada di ruangan belakang pentas itu. Dadanya terasa sesak karena ternyata masyarakat sudah tidak bisa dibohongi, masyarakat sudah makin mengerti antara kebenaran yang sesungguhnya dengan kebenaran yang dibungkus kemaksiatan seperti konser amal milik even organizer itu. Mata Bapak Ketua Panitia sayu menatapi cermin, lututnya mulai bergetar, dan tubuhnya berkelayutan sampai akhirnya terkapar di lantai, pingsan!
“Saudara-saudara, untuk mencapai kejayaan masa depan Islam, kita harus bersatu dalam Kekhilafahan Islam dan melepaskan diri dari Amerika Serikat dan sekutu sekutunya”, dengan lantang dan berapi-api Emen berceramah di forum itu. Emen masih menyesalkan sikap penguasa yang menjadikan AS dan sekutunya sebagai tuan. Dan mempercayakan penanganan bencana alam kepada pihak Asing, terutama AS laknatullah alaihi.
Oleh: suhelmi | November 30, 2007
AS, Laknatullah alaihi
Ditulis dalam Dunia Islam